Karena pengen iseng2 ngubah dan ngotak-ngatik code themenya secara bebas, aku berkemas ke Corelku Notepadku yang baru. Gratisan, dan mayan sering down. tapi biarlah!
Kakakku belum pulang juga, padahal dia hanya terlambat bila ada hujan. Sekarang jelas-jelas tidak hujan, aku bisa tahu itu dari hangatnya tanah yang kuinjak ini. Tanah hangat seperti ini selalu mengeluarkan bau harum yang enak. Di luar sana pasti matahari bersinar cerah. Itu pasti akan membuat warna-warni bunga terlihat jelas, juga hijau rerumputan berkilau. Ah, kakak mungkin terlambat pulang karena terlalu menikmati semua itu.
Aku sedikit iri, tetapi aku senang untuknya. Sekarang, lebih baik aku tidur saja.
~~
Kakakku belum pulang juga, padahal dia sudah berjanji untuk pulang dengan segera. Aku terbangun, perut lapar membuatku terjaga. Sewaktu bangun tadi aku langsung berjalan ke dapur umum, tetapi berhenti ketika teringat peraturan yang sedang ditetapkan itu – kalau kita hanya dibolehkan makan satu kali dalam satu terang-gelap. Sampai suplai makanan baru tiba, peraturan itu terus ada, dan anggota koloni ini tak boleh makan seenaknya.
Ya, koloni kami memang sedang mengalami krisis makanan. Sudah tujuh terang-gelap berlalu sejak munculnya desas-desus akan ada lagi kelaparan panjang. Kami semua murung, sampai tadi pagi sewaktu para pengintai mengirim kabar gembira; Mereka menemukan sumber makanan. Dan setelah berbagai prosedur yang biasa dilakukan, para pekerja kami pun berangkat. Kakakku termasuk rombongan itu. Oh, aku ingat senyumnya ketika tadi pagi ia berjanji untuk pulang dengan segera.
Aku jahat bila meragukannya, jadi sekarang, lebih baik aku mencoba untuk tidur lagi saja.
~~
Kakakku belum pulang juga, padahal dia tak mungkin menyasar. Aku bangun, sang pengawal membangunkanku dan beberapa rekanku. Aku dan rekan-rekanku tahu kalau si pengawal tak akan datang kesini kecuali bila Sang Ratu menghasilkan telur-telur lagi. Jadi tanpa kata-kata darinya pun kami langsung bergegas ke tempat perawatan. Aku ini seorang perawat, dilahirkan dengan jemari-jemari dan kaki-kaki halus untuk merawat telur dengan lembut. Sedangkan kakakku seorang pekerja, dan dengan dua sungut panjang yang dimilikinya, dia takkan mungkin menyasar.
Tempat perawatan telur terletak tak jauh dari tempatku tinggal, bentuknya seperti kubah dengan tiga buah pintu masuk bulat-bulat yang selalu dijaga. Tempat ini adalah salah satu tempat yang paling dilindungi di koloni. Dengan penjaga besar-besar yang terus bergiliran menjaga setiap pintu masuk, tentu tak akan ada yang berani bertingkah disini. Tetapi bagiku ini bukan saja tempat yang paling aman. Ini juga tempat yang paling indah. Telur-telur mungil itu disusun rapi dan hati-hati. Bau mereka bahkan lebih harum dibanding bau hangat tanah. Tugas kamilah – para perawat – untuk menjaga dan merawat semua ini, sampai telur-telur kecil itu menetas.
Tetapi kali ini, jumlah telur yang dihasilkan Ratu membuatku heran. Ini terlalu sedikit. Aku menengok ke arah pengawal yang tampaknya langsung tahu keterkejutanku. Dia berkata, “Ratu sedang memutuskan untuk melakukan penyusutan koloni, karena keterbatasan suplai makanan kita.”
“Tetapi kita kan menemukan sumber makanan baru.” kataku.
“Semuanya gagal, rombongan pekerja tidak akan pulang. Para pengintai melaporkan bahwa ada makhluk besar yang mengobrak-abrik taman tadi. Memindahkan tumbuhan-tumbuhan besar, menutup lubang-lubang. Dan itu cukup menghancurkan jalur transportasi kita. Kita mungkin membutuhkan tujuh terang-gelap untuk membangun transportasi lagi.”
“Lalu bagaimana kakakku?” Aku memotong.
“Kakakmu ada di rombongan itu?”
Aku mengangguk.
“Kurasa hanya sedikit kemungkinan kakakmu bisa kembali. Kembali ke ceritaku tadi, sang Ratu memutuskan…”
Aku tak ingin mendengar lagi. Bagaimana mungkin dia bisa seenak itu bercerita tentang keputusan ratu, padahal aku cuma ingin tahu kabar kakakku. Oh, kakakku yang malang. Aku memalingkan muka ke arah telur-telur mungil itu. Entah kenapa, setiap melihat mereka, dunia ini menjadi begitu sederhana, dan aku bisa sedikit melepaskan gundahku. Pelan-pelan, aku pun mulai merawat telur-telur itu.
~~
Kakakku belum pulang juga, padahal sekarang sudah gelap.
Bekasi, 23 Juni. Mungkin ada seekor semut yang mencatat itu di rumah gw hari ini, gw adalah si makhluk besar yang membersihkan taman mereka. Dan pas gw liat banyak semut2 yang kebingungan nyari lobang mereka, gw kembali sadar, bahwa setiap tindakan gw, ngasilin hal-hal yang ga pernah gw kira
.
sebentar aku diam,
pelan-pelan takutku muncul,
kusapa dia,
dia tetaplah temanku
sejenak aku berpikir,
dan hinggap sombongku,
tentu saja kubelai,
aku benar-benar tak tega memarahinya
kubuka mataku,
dan iriku ada tiba-tiba
ah, aku kenal dia..
dan kupeluk mereka semua,
aku tetaplah aku,
dan kalaupun aku tumbuh,
mereka juga harus tumbuh,
bersama.
(Puisinya bener2 buru-buru, dan gambarnya cuma sejam. Ahaha, paling ga, nyoba karya baru -> corelku notepadku perdana!)
aku ingin mencintaimu,![]()
dengan sederhana.
dengan kata yang tak sempat,
diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
aku ingin mencintaimu,
dengan sederhana.
dengan isyarat yang tak sempat,
disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Sapardi Djoko Damono
(Sip, ngetes blog baru pake puisi dewa dan gambar sepeda keren! kurang apa lagi. Hak cipta milik mereka yang bersangkutan)